Senin, 10 Desember 2012

Filsafat Ilmu


BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Karl Popper adalah nama yang cukup familiar tidak hanya di kalangan filsuf tetapi juga di kalangan masyarakat yang lebih luas. Dua bukunya, The Open Society and its Enemies dan The Poverty of Historicsm,  telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Dalam dua karyanya itu Popper mengingatkan bahayanya sikap tertutup terhadap ilmu (science) karena itu akan menjadi dasar bagi ideologi totaliter yang membahayakan kebebasan umat manusia. Popper, sebaliknya, mengajukan pentingnya sikap terbuka terhadapnya, yaitu sikap yang siap dengan kemungkinan bahwa ia bisa benar dan/atau bisa salah. Gagasan yang kemudian disebut prinsip ‘falsifikasi’ tersebut sentral dalam pemikiran Popper. Dengan tegas Popper menyatakan bahwa ‘problem demarkasi’ antara apa yang disebutnya ‘ilmu’ dan ‘ilmu-semu’ berpangkal pada pertanyaan apakah ia bisa ‘dibuktikan salah’ atau tidak.[1]
Karl Popper hadir untuk mengkritisi dan menentang beberapa gagasan dasar dari lingkaran Wina. Metode Induksi yang diterapkan dalam ilmu pengetahuan mengandung permasalahan yang mengkonfirmir bahwa induksi tidak luput dari kritik-kritik. Karl Popper adalah salah satu tokoh yang mengkritik konsepsi induksi. Kritik Popper terhadap induktivisme telah membuka perspektif baru bagi ilmu pengetahuan, yang jauh berbeda dari perspektif yang didasarkan pada induktivisme. Popper memperkenalkan apa yang disebutnya falsifikasi. Falsifikasi menjadi alternatif dari induktivisme. Menurut Popper, titik permasalahan sentral dari filsafat ilmu adalah demarkasi antara ungkapan yang ilmiah dan tidak ilmiah. Karena itu, untuk memahami falsifikasi dalam konteks pemikiran Popper perlulah pemahaman tentang ilmu dalam perspektif lingkaran Wina sebab pemikiran Popper pada umumnya merupakan kritik terhadap konsepsi pemikiran lingkaran Wina.
Kritik Popper terhadap epistemologi logis, merupakan pintu masuk ke dalam epistemologinya. Adapun beberapa gagasan Popper sehubungan dengan penolakannya terhadap gagasan lingkaran Wina adalah Popper menentang prinsip demarkasi antara ilmu yang bermakna dan tidak bermakna berdasarkan metode verifikatif induktif. Dia mengusulkan suatu demarkasi lain, yaitu demarkasi antara ilmu yang ilmiah dan tidak ilmiah berdasarkan tolak ukur pengujian deduktif.
Metode verifikasi induktif diganti dengan metode falsifikasi deduktif. Namun tidak seperti Hume yang membuang induksi atau Kant yang mendudukkan induksi pada tataran sintesis a priori, Popper justru meletakkan penalaran induktif pada tataran awal, pra ilmiah dalam rangkah pengujian deduktif.




BAB II
PEMBAHASAN

A.  Dasar-Dasar Pemikiran Popper
Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan ruang lingkup dan cara memperoleh pengetahuan. Sejak masa Yunani Kuno diskusi tentang epistemologi telah dimunculkan, terutama oleh kaum Sophis yang mengajukan skeptisisme. Akan tetapi, terutama pada Plato-lah epistemologi menemukan rumusannya yang lebih spesifik. Plato mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa pengetahuan itu? Di mana pengetahuan biasanya diperoleh? Di antara apa yang biasa kita anggap kita ketahui berapa yang benar-benar pengetahuan? Dapatkah indera menghasilan pengetahuan? Bisakah akal memberikan pengetahuan? Apa hubungan antara pengetahuan dan kepercayaan yang benar.[2]
Pada periode modern, Descartes mengembangkan apa yang disebut rasionalisme. Pandangan ini dikenal sebagai pandangan Cartesian mendasarkan diri pada prosedur tertentu dari akal atau rasio. Descartes percaya bahwa pengetahuan rasional bersifat mutlak dan berlaku universal. Sebagai reaksi terhadap pandangan Cartesian ini muncul empirisme. Tokoh utamanya adalah John Locke. Dia menyatakan bahwa pengetahuan yang benar didapatkan dari pengamatan inderawi. Akan tetapi, David Hume, seorang yang sebenarnya beraliran empiris, meragukan kemampuan inderawi untuk benar-benar menjangkau semesta pengetahuan. Hume lebih lanjut menyangsikan apakah pengetahuan yang partikular, yang disusun secara induktif, bisa menjadi pengetahuan yang universal.
Immanuel Kant adalah filsuf yang berusaha mengatasi rasionalisme dan empirisme. Dalam banyak hal, Popper menyetujui pandangan Kant, termasuk pandangannya tentang pengetahuan apriori, yaitu pengetahuan yang ada sebelum pengalaman.[3] Akan tetapi, Popper tidak setuju dengan Kant mengenai keabsahan pengetahuan apriori. Bagi Popper, teori pengetahuan adalah penemuan kita yang bersifat konjektur, sehingga ia bisa salah kalau dikemudian hari ditemukan pengetahuan yang lebih meyakinkan. Mengikuti Darwin, Popper melihat teori pengetahuan atau epistemologi secara evolutif dan saling berkompetisi. Tidak ada epistemologi yang tunggal. Oleh karena itu, teori pengetahuan tidak bisa menjadi sebuah dogma yang berlaku sepanjang sejarah, melainkan sebentuk hipotesis yang bisa dikritisi dan bahkan disalahkan.
Popper, dengan demikian, ingin menyelamatkan rasionalisme tetapi dengan catatan. Rasionalisme Popper dikenal dengan rasionalisme kritis. Proyek Popper ini terutama ditujukkan untuk membantah kaum positivisme logis yang berbasis di Wina, Austria dikenal sebagai Lingkaran Wina. Salah satu proyek mereka adalah hendak memisahkan mana ungkapan yang bermakna dan ungkapan yang tidak bermakna. Ungkapan ini bisa ditemukan dalam bahasa sebagai objektifikasi pikiran manusia. Menurut kaum postivisme logis, pemisahan itu ditentukan oleh sejauh mana ungkapan-ungkapan itu bisa ditangkap oleh inderawi atau tidak. Ungkapan yang tidak bisa ditangkap inderawi berarti tidak bermakna. Sebaliknya, ungkapan yang bisa ditangkap oleh inderawi adalah yang bermakna. Ungkapan yang bermakna inilah, yang hanya bisa diverifikasi secara empiris.
Popper menyangkal pandangan kaum positivisme logis tersebut. Dalam pemahamannya manusia tidak mungkin mengetahui semesta pengetahuan hanya dengan mengandalkan verifikasi empiris. Popper memberi contoh kasus angsa putih dan angsa hitam. Orang Eropa selama ratusan atau mungkin ribuan tahun percaya bahwa semua angsa adalah putih karena memang sejauh itu tidak ditemukan angsa selain angsa putih. Keyakinan ini goyah dan kemudian runtuh ketika para pelancong Eropa menemukan angsa hitam di Sungai Victoria di Australia pada pertengahan abad ke-17. Dengan penemuan itu keyakinan orang Eropa terbukti salah. Contoh serupa bisa ditemukan dalam semua hal yang ada di ‘dunia objektif’. Oleh karena itu, bagi Popper, teori pengetahuan selalu bersifat hipotesis dan konjektural.
Melihat argumennya, Popper jelas tetap berusaha menyelamatkan empirisme tetapi dengan catatan. Bagaimanapun prinisp falsifikasi Popper dilakukan melalui pengujian yang sifatnya empiris. Akan tetapi, empirisme Popper tidak berasal dari sebab-musabab yang berujung pada akibat, dari yang partikular menuju yang universal. Empirisme Popper lahir dari pengetahuan apriori yang ditimba dari pengetahuan apriori-nya Kant, tetapi Popper meneruskan itu dengan menambahkan prinsip falsifikasi. 10 Ketika ada bukti empiris yang lebih kuat, teori pengetahuan lama otomatis terbukti salah. Namun jika bukti empiris baru ternyata lebih lemah, teori pengetahuan lama justru dikuatkan (corroborated) oleh bukti empiris baru tersebut. Dengan prinsip inilah ilmu penegetahuan berkembang dan terhindar dari pembakuan yang bisa memerosotkan ilmu menjadi mitos dan ideologi.
Berangkat dari prinsip falsifikasi, Popper ingin menghindari objektivisme dan subjektivisme dalam pengertiannnya yang ekstrem. Untuk itu dia mengajukan gagasan ontologis tentang tiga Dunia. Dunia 1 adalah dunia fisik, Dunia 2 adalah dunia mental, Dunia 3 adalah dunia objektif. Dunia 1 dan Dunia 2 saling berinteraksi. Dunia 2 dan Dunia 3 saling berinteraksi. Akan tetapi, Dunia 1 tidak bisa langsung berinteraksi dengan Dunia 3 kecuali melalui Dunia 2. Dengan kata lain, benda-benda fisiologis berinteraksi dengan benda-benda psikologis, benda-benda psikologis berinteraksi dengan benda-benda logis, tetapi benda-benda fisiologis tidak bisa langsung berinteraksi dengan benda-benda logis kecuali terlebih dulu melalui dunia psikologis.[4]
Apa yang dimaksud dunia 3 tak lain adalah pendekatan objektif. Pada Popper, itu berarti pendekatan yang memandang pengetahuan manusia sebagai suatu sistem pernyataan atau teori yang dihadapkan pada diskusi kritis, ujian intersubjektif, atau kritik timbal-balik. Pendekatan objektif adalah kata lain untuk epistemologi pemecahan-masalah (problem-solving).[5] Analisis yang lahir dari epistemologi Popper ini bersifat situasional, sehingga ia hanya sebuah solusi tentatif. Ia mesti menyesuaikan diri secara terus menerus dengan problem-problem baru. Pendapat Popper tentang Dunia 3 adalah gagasan ontologis yang berpijak pada bahasa sebagai objektifikasi dunia mental manusia yang subjektif. Secara jelas Popper menyatakan bahwa “ Diri kita, fungsi bahasa yang tinggi (deskriptif dan argumentatif) dan Dunia 3 telah berevolusi dan muncul bersama dalam interaksi yang terus menerus untuk lebih spesifik, saya menyangkal bahwa binatang mempunyai kesadaran penuh atau bahwa mereka mempunyai diri yang sadar. Diri kita berkembang bersama dengan fungsi-fungsi bahasa yang lebih tinggi yaitu fungsi yang deskriptif dan argumentatif”.[6]
B.  Desain Pengembangan Ilmu Popper
Popper adalah phenomenolog, mengikuti pandangan phenomenologi Edmund Husserl. Dalam hal desain pengembangan ilmu ada empat hal esensial dari popper. Pertama, dia mengangkat logika matematik induktif probabilistik sebagai model berikutnya. Kedua, model berfikir probabilistik dia pakai secara deduktif untuk membangun teori atau tema. Ketiga, dibangun teori yang diuji dengan uji falfikasi, menggantikan uji ferifikasi yang lazim di gunakan. Keempat, data, analisis, dan kesimpulanya menggunakan pendekatan kualitatif phenomenologik.[7]
1.    Deduktif Probabilistik
Mengelolah data secara probabilistik adalah ciri logika matematik induktif. Data diposisikan dalam rentang kurve normal, dalam distribusi normal: banyak yang memiliki karakteristik sedang. Pada phenomenologik bukan memposisikan frekwensi atau variasi data dalam sebaran kurve normal, melainkan memposisikan beragam kasus dibobot pada kesesuaianya dengan teori atau temanya.
2.    Membangun Teori Secara Dedutif
Popper membangun teori saecara deduktif. Para ilmuwan dapat mengembangkan teori atau tema dengan membuat abstraksi atas banyak tesis menjadi teori besar, atau abstraksi atas kumpulan problim yang dapat disatukan dalam satu tema besar. Teori besar atau tema besar tersebut di sajikan untuk diuji secara deduktif akan kebenaranya. Kebenaranya merentang dalam probabilitas benar sampai salah, secara kualitatif.
3.    Uji Falsifikasi
Uji kebenaran yang lazim adalah uji verifikasi atau uji validitas atau uji kecocokanya atau signifikansi teoritiknya dengan empirinya. Uji verifikasi cenderung berupaya mengumpulkan data yang relevan atau mendukung teorinya. Teori gelomban newton akan menciptakan aparat, eksprimen yang akan menangkap dan tidak menangkap gelombang sehinggah verifikasinya hanyalah untuk menguji kebenaran teorinya, bukan mencari kebenaran hakiki atau kebenaran substantif esensial. Atas alasan tersebut Popper menampilkan uji falfikasi atau uji penolakan atas teorinya.
Penulis dapat menjelaskan tentang uji falsifikasi dalam dua prosedur. Pertama, diuji teori besarnya; dilanjutkan dengan diuji kasus dalam teori besar tersebut, untuk menguji apakah teori besar tersebut menjangkau kasus tersebut atau tidak, atau dapat dideskripsikan uji falsifikasi dilakukan pada sub-sub populasi yang paling marginal; sehinggah dapat teridentifikasi sub populasi mana yang mendukung dan mana yang menolak teori tersebut.
Prosedur kedua adalah diuji teori yang cukup besar. Dalam rangka memperluas teori yang cukup besar tersebut, diadakan semacam ekstensi teori tersebut dan diharapkan diperoleh jawaban, apakah eksistensi tersebut dan diharapkan diperoleh jawaban, apakah eksistensi tersebut menjadi mengimplisitkan eksistensi tersebut atau tidak.
4.    Data, Analisis, dan Kesimpulan
Meskipun Popper menggunakan konsep probabilistik dari logika matematik induktif, namun realisme metafisik Popper menggunakan pembuktian deduktif dan pendekatan phenomenologik. Data, analisis, dan kesimpulan menggunakan fisafat phenomenologik Husserl yang mengangkat data bukan berdasar generalisasi dari frekwensi atau variasi kejadian seperti pada positifisme, melainkan berdasar upaya mencari esensinya. Obyek ilmu tidak diurai secara analitik, melainkan dicermati secara holistik. Mencari esensi secara holistik diperoleh dengan menemukan responden yang representatif yang memahami esensi obyek peneliian terkait, bukan banyaknya responden yang dicari, melainkan representasinya dalam obyek penelitian terkait.[8]
C.     Menemukan Teori
Tugas ilmu adalah mengembangkan ilmu. Menurut Popper tujuan ilmuwan berilmu pengetahuan adalah menemukan teori dan mengembangkan. Teori yang baik mampu menyajikan esensi dan realitas. Benarkah teori itu mendeskkripsikan realitas? Meman belum. Menurut Popper teori merupakan terkaan-terkaan informatif tentan semesta.
Dari manakah titik berangkat kita untuk menemukan teori? Dalam upaya mencari kebenaran model grounded dan model Popper keduanya sama, yaitiu: mencari esensi secara holistik. Model grounded mengembangkan teori substantif menjadi teori formal.
Dari pengamatan penulis pada pengembangan teknologi, penulis melihat adanya subtansi yang seakan-akan sudah given,sudah memiliki sifat dasar seperti itu. Tubuh manusia menolak menempelnya organ baru pada tubuhnya. Timbul masalah: organ kita rusak, apakah tidak diganti dengan organ baru, seperti mobil ganti ban, ganti mesin, dan seterusnya. Ternyata tubuh manusia menolak organ baru tersebut. Diketemukan karakteristik esensial menolak organ baru pada substansi tubuh manusia. Dari esensi-esensi yang melekat pada beragam substansi direkayasa sehinggah dapat diciptakan substansi baru yang memiliki karakteristik esensial baru yang ideal.
Berangkat dari asumsi bahwa semesta ini teratur, baik tampil dalam keteraturan subtansial maupun tampil keteraturan esensial. Ilmuwan memiliki bahan acu pengembangan ilmu yang tidak pernah akan membingungkan. Teori, tesis yang bertolak lebih karna disebabkan belum mampunya manusia menangkap keteraturan semesta ini. Keteraturan kehidupan manusia sebenarnya lebih diversifikatif dibanding dengan keteraturan alam phisik. Alam phisik substantif dapat berubah karna adanya upaya manusia secara terancang –kadang malah eksperimental, lewat pengembangan rekayasa teknologi.
Popper menolak intrumentalis, dan hanya mengakui teori dan tesis esensial, sehinggah Popper termasuk yang di sebut esensialis. Berfikir dan mencari esensi dalam penelitian ataupun bergerak mengembangkan teori  subtantif menjadi teori formal, dapat menjebak kita (bila diartikan negatif) atau menuntun kita (bila diartikan positif) kepada esensi yang instrumentalis.[9]





























BAB III
KESIMPULAN

Bagi Popper, teori pengetahuan adalah penemuan kita yang bersifat konjektur, sehingga ia bisa salah kalau dikemudian hari ditemukan pengetahuan yang lebih meyakinkan. Mengikuti Darwin, Popper melihat teori pengetahuan atau epistemologi secara evolutif dan saling berkompetisi. Tidak ada epistemologi yang tunggal. Oleh karena itu, teori pengetahuan tidak bisa menjadi sebuah dogma yang berlaku sepanjang sejarah, melainkan sebentuk hipotesis yang bisa dikritisi dan bahkan disalahkan. Rasionalisme Popper dikenal dengan rasionalisme kritis.
Dalam hal desain pengembangan ilmu ada empat hal esensial dari popper. Pertama, dia mengangkat logika matematik induktif probabilistik sebagai model berikutnya. Kedua, model berfikir probabilistik dia pakai secara deduktif untuk membangun teori atau tema. Ketiga, dibangun teori yang diuji dengan uji falfikasi, menggantikan uji ferifikasi yang lazim di gunakan. Keempat, data, analisis, dan kesimpulanya menggunakan pendekatan kualitatif phenomenologik.
Popper menolak intrumentalis, dan hanya mengakui teori dan tesis esensial, sehinggah Popper termasuk yang di sebut esensialis. Berfikir dan mencari esensi dalam penelitian ataupun bergerak mengembangkan teori  subtantif menjadi teori formal.




DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu 1982. Filsafat Islam. Semarang: Toha Putra

Achmad, Mudlor. 1994. Ilmu dan Keinginan Tahu (Epistemologi Dalam Filsafat). Bandung: PT. Trigenda Karya.

Arif, Syamsuddin. 2005.”Prisip-Prinsip Dasar Epistemologi Islam” Dalam Majallah Islamia, Tahun II No. 5/ April-Juni

Surajiyo , 2008. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Cetakan Ketiga.Jakarta: Bumi Aksara.

Suhartono, Suparlan. 2005. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

In’am Esha, Muhammad, 2010. Menuju Pemukiran Filsafat. Cetakan Pertama. Malang: UIN Maliki Press





[1] Karl R. Popper, Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London dan New York: Routledge, 1989 edisi kelima), hlm. 39.
[3] Alfons Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl Popper,  (Jakarta: Gramedia, 1991), hlm. 18.
[4] Taryadi, op. cit., hlm. 94-95.
[5] Ibid. hlm. 30-33.
[6] Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008, Cet. 3), hlm 74.
[7] H. Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu Kualitatif dan Kuantitatif Pengembangan Ilmu dan Penelitian, (Yokgyakarta: Rake Sarasin, cet, 3, 2006),hlm.185
[8] Ibid., hlm. 187
[9] Ibid., hlm. 190.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar